Berpesan Untuk Mencipta Pesan

Posted by agungboy Category: news Tag:

“Ketika kamera yang digunakan pada dasarnya mewakili mata manusia yang memotret, niscaya realitas atau pengetahuan itu adalah subjektif.” (Seno Gumira Ajidarma)

Foto atau apapun nama dari hasil respon berupa citra si empunya karya, pastinya mewakili sebuah pesan. Meskipun saya cukup yakin bahwa sebagian dari kita akan ada yang berkata bahwa karya itu tidak bermakna, namun para intelektual “iseng” itu punya jurus pamungkas bernama semiotika.

Menjiplak apa yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma mengenai pesan fotografis dalam bukunya yang berjudul ‘Kisah Mata, Fotografi Antara Dua Subyek : Perbincangan Tentang Ada’, tepatnya di halaman 27. Pada halaman itu Seno mengutip sebuah pemikiran dari Rolland Barthes yang terdapat dalam buku The Photographic Message, tentunya sudah diterjemahkan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.

“Foto adalah suatu pesan yang dibentuk oleh sumber emisi, saluran transmisi, dan titik resepsi. Struktur sebuah foto bukanlah sebuah struktur yang terisolasi, karena selalu berada dalam komunikasi dengan struktur lain, yakni teks tertulis –judul, keterangan, artikel— yang selalu mengiringi foto. Dengan demikian pesan keseluruhannya dibentuk oleh ko-operasi dua struktur yang berbeda.”

Sudah ada gambaran kemana arah tulisan ini akan dibawa? Tapi sebelum menutup bagian yang nampak elitis ini, perkenankan saya melanjutkan apa yang dipaparkan oleh Seno dalam alinea selanjutnya. Karena hal tersebut akan berkaitan dengan apa yang diceritakan dalam tulisan ini, atau katakanlah dikait-kaitkan.

“Apakah isi pesan fotografis? Apakah yang ditransmisikan fotografi? Secara definitif adalah realitas harfiahnya: apa yang difoto itu sendiri. Namun dari objek menuju citra terjadi suatu reduksi –dalam proporsi, perspektif, warna— yang sekaligus merupakan transformasi dalam pengertiannya yang matematis.”

“Untuk bergerak dari realitas menjadi foto tidak bisa lain harus dilakukan suatu pembelahan realitas menjadi unit-unit dan untuk mengangkat unit-unit ini menjadi tanda-tanda, menjadikannya secara substansial berbeda dari objek yang dikomunikasikan; tidak ada kebutuhan untuk membangun saluran, sebut saja kode, antara objek dan citranya.”

“Jadi citra itu bukanlah realitasnya, tapi setidaknya merupakan analogon yang sempurna, dan bisa dipastikan kesempurnaan analogis ini yang mendefinisikan sang foto.”

 

Pesan 1:
8 Juni, tepat setahun yang lalu
 

Tidak ada hal yang menarik untuk saya ceritakan mengenai float2nature 2012, karena saya sendiri bukan peserta apalagi penyelenggara. Singkat kata, saya melewatkan float2nature edisi pertama, dan itu rasanya tidak menyenangkan.

Namun saya mendengar cerita dari beberapa pihak seperti Meng, Jakob, Linda, David, Yudha, Hamam, Jenong, Nike dan Uci, mereka semua menyiratkan ada semacam nada penyesalan ketika bercerita pengalaman kebersamaan pertamanya itu.

Setidaknya ada 10 tautan yang sanggup direkam dan dapat digunakan sebagai gambaran tentang apa yang terjadi dalam float2nature 2012. Dan tentu saja, setiap tautan mengandung kadar subjektivitas yang berbeda.

  1. RollingStone Indonesia: Live Review: Float Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo. 9 Juni 2012
  2. Trax Magazine: Live Report: Menembus Rindu Bersama Float
  3. Jakarta Globe: Indonesia’s Float Takes Its Fans Back to Nature
  4. Jakarta Globe: Piece of Mind: Gridlock Turns Brilliant Float2Nature Concept Into a Weekend From Hell
  5. Stephany Josephine: #Float2Nature – Gerakan Menolak Move On
  6. Rahne Putri: Float 2 Nature – Bus Rinjani
  7. Satrio Pinandito Haryanto: Float 2 Nature trip (terimakasih untuk Float)
  8. Mohammad Farhan Noor: #Float2Nature: Kehangatan Dieng
  9. Alderina Gracia: Alam Dan Manusia, Berpikir Dari Perjalanan #Float2Nature
  10. Wiku Baskoro: Kegalauan Yang Diinginkan – Catatan #Float2Nature Part 1

Terlepas dari segala yang disesalkan oleh orang-orang yang namanya saya sebut di atas tadi, nampaknya saya memilih untuk melihat hasil foto-fotonya saja. Tindakan ini saya ambil karena pada siang menuju sore di hari Sabtu bulan Juni tanggal satu, Meng tiba-tiba berkata; “Minggu depan pas setahun float2nature!” dan itu terjadi ketika kami sedang meeting untuk float2nature 2013 di Aidea Creative house.

Sebagai salah satu orang yang tidak masuk ke dalam jemaah float2nature 2012, jelas saya merasa terintimidasi. Karena saat itu Meng, Jakob, Nike, Yudha, Uci dan Linda melulu berbicara soal dieng, dieng dan dieng!

#float2nature 2012. Dieng plateau.

#floatspot at #float2nature 2012. Lake Cebong, Desa Sembungan, Dieng plateau.

#float2nature 2012 survey team at Losmen Bu Djono, Dieng, Feb 26, 2012.

8 Juni 2012. Ban bus tim advance kempis di tengah perjalanan.

8 Juni 2012. Menunggu ganti ban bus. Tim advance #float2nature

8 Juni 2012. Penumpang bus tim advance #float2nature baris tengah – belakang.

8 Juni 2012. Makan malam pertama di Losmen Bu Djono. Tim advance #float2nature

Line check. #floatspot #float2nature 2012.

 

Semeru Band a.k.a. @MassRomantic @mass_abe @massdidit @MassChrezma at #floatspot #float2nature 2012.

 

Floatspotters at #float2nature 2012.

 

@cantsaynotohope @DVQL @clanirella performing at #floatspot #float2nature 2012.

 

@float_project #floatspot at #float2nature 2012.

 

Floatspotters at #float2nature 2012.

 

@float_project featuring Ari Lesmana. #float2nature 2012.

 

#float2nature 2012 goers with the full cast of Lengger Dieng.

 

Beberapa hal yang saya pahami tentang float2nature 2012 adalah acara ini diikuti oleh 171 peserta, biaya yang harus dikeluarkan sebesar Rp 650.000,- atau Rp 850.000,- dan yang terakhir acaranya tidak berjalan sesuai jadwal.

Bahkan cerita tentang adanya bus yang tidak kuat menanjak sehingga penumpangnya harus rela dioper ke truk untuk dapat sampai ke lokasi tujuan, saya dapat dari Wendi Putranto, salah satu kawan yang berprofesi sebagai jurnalis musik.

Selama beberapa bulan terakhir ini, Float dan beberapa teman yang terlibat dalam agenda float2nature 2013 rasanya seperti berada di bawah “teror” tenggat dan pertanyaan yang bergulir di dunia maya. Antusiasme calon peserta membuat kami harus berkali-kali mempertimbangkan beberapa aspek yang krusial guna berlangsungnya acara ini, tidak hanya sekadar berlangsung saja tapi kali ini harus lebih baik.

 

Pesan 2:
Kembali lagi ke Dieng
 

Kurang lebih dua minggu yang lalu, Meng dan Linda melakukan perjalanan menuju Solo dengan kendaraan pribadinya. Dan apa yang terjadi setibanya Ia di Jakarta dan bertatap muka dengan saya? Lagi-lagi Ia berbicara soal Dieng!

Entah apa alasannya tiba-tiba Ia posting sebuah tulisan di situs resmi Float denga judul “Seperti Pulang”, di sana Ia berbicara soal Dieng lagi. Asumsi saya, mungkin karena di Solo Ia tidak merasakan suasana pulang atau pertimbangan lainnya, tapi harus saya akui bahwa tulisannya kali ini memang mengandung aroma persuasif yang menyengat syahwat.

Minggu, 2 Juni 2013. Saya tiba di studio tempat Float berlatih, di teras sudah ada Bontel, Meng, Remon dan David. Uchra tidak bisa hadir dikarenakan ada urusan di luar kota. Selang beberapa saat setelah saya mengeluarkan pesanan Bontel yaitu kopi, akhirnya kami memutuskan untuk pindah posisi menuju ruangan dalam akibat cuaca yang terasa makin terik apabila kami terus berbincang di teras.

Tak berselang lama, Jakob datang dan perbincangan kami semakin mengerucut pada pembahasan teknis float2nature 2013. Padahal sehari sebelumnya, Meng, Jakob dan saya sudah terlibat adegan yang sama di tempat yang berbeda.

Masalah biaya, jumah peserta, akomodasi, transportasi, itinerary, mekanisme pendaftaran, hingga repertoar lagu menjadi topik utama siang hari itu. Semua berkontribusi ide dan kemampuan, sampai tiba suatu saat dimana David merasa kenyang dan langsung mencari bantal. Tapi kami berlima masih melanjutkan perbincangan dengan pertimbangannya masing-masing.

Antusiasme floatmates terhadap float2nature 2013 membuat kami fokus untuk memberikan yang terbaik bagi calon peserta, tujuannya sederhana saja, tidak mengulang segala hal buruk yang terjadi saat float2nature 2012.

Tugas yang menanti kami selanjutnya adalah mengumumkan biaya pendaftaran sekaligus tanggal pembukaan pendaftaran. Sebab float2nature 2013 sudah kami putuskan akan diselenggarakan di Dieng pada tanggal 2-4 November, dengan kuota peserta yang direncanakan sebanyak 350 orang.

Semoga saja ini bisa menjadi pertunjukan yang lebih tertata, tapi harapan kami justru lebih dari itu, semoga para peserta mendapatkan kenangan yang baik dan suasana yang hangat ketika kita berada di telaga Cebong yang terletak diketinggian 2200 mdpl.

Sampai jumpa di float2nature 2013, floatmates! Kami tunggu pesanmu nanti selepas kebersamaan itu terjalin, tak peduli dalam medium apapun dan entah dengan paradigma apa kamu merekamnya… “We’re all floaters in this shapeless universe.”

 

Postcards From The Past:

(#float2nature #1stanniversary)

Leave a Reply