FLOAT FLOAT
Menu

Discographies

No-Dream Land

Loading tracks...

Pada awal Januari 2003, Bontel dan Meng mulai merekam guide track yang terdiri dari vokal dan gitar. Sebagian besar dari lagu-lagu itu ditulis Meng pada tahun 90an (“Pulang”, “Sementara”, “Perlahan”, dan “Biasa” yang merupakan versi awal dari “3 Hari Untuk Selamanya”). Sedangkan sebagian lainnya adalah karya-karya terbarunya waktu itu (“No-Dream Land” dan “Stupido Ritmo”). Dengan materi yang ada ini Bontel mengajak Meng untuk bersama-sama menjadikan proyek ini sebagai proyek album solo Meng dimana Bontel berperan sebagai produser. Tidak lama kemudian, keduanya pun akhirnya hengkang dari Zero dan Mangobuds.

Bontel memilih mengerjakan “Pulang” sebagai lagu pertama. Ia mengerjakannya selama hampir setahun. Hal ini disebabkan oleh rusaknya data digital yang menyimpan komposisi & aransemen instrumen yang telah ia buat untuk lagu itu. Kesibukannya dalam pekerjaan di sebuah rumah produksi sebagai sound designer dan jingle maker pun ikut menjadi penyebabnya. Untuk menyelesaikan aransemen “Pulang”, Bontel merasa perlu mengganti track bas “plastik” (midi) yang telah ia buat. Akhirnya ia membujuk teman se-bandnya di d’Opera dulu, yaitu Raymond “Remon” Agus Saputra, untuk bergabung sebagai pemain bas. Dengan bergabungnya Remon, Bontel lalu mengajak Meng untuk kembali melanjutkan proyek album solonya ini sebagai proyek sebuah band.

Pada tanggal 22 Agustus 2004 sesi rekaman “Pulang” dan “Stupido Ritmo” selesai.

Walaupun saat itu industri musik indie telah berkembang pesat, satu-satunya hal yang mereka lakukan pada karya rekaman itu agar didengar banyak orang adalah dengan membagikan copy rekaman itu ke teman-teman. Karena saat itu baru “Stupido Ritmo” saja yang sudah selesai mastering, keping-keping CD kopian itu hanya berisi satu lagu. Mereka pun belum memikirkan nama yang mewakili mereka bertiga sebagai sebuah band, hingga seorang teman (Febi Lubis – Tassignon) menanyakannya. Untuk itu, pada tanggal 30 Agustus 2004, Meng menawarkan Bontel dan Remon tiga buah nama termasuk “Float” yang akhirnya terpilih karena maknanya yang paling mewakili ketiganya dalam hal pendekatan bermusik dan semangat kebebasan berekspresi.

Diam-diam Febby mengirim CD itu ke Anton “Not” Wahyudi yang saat itu bekerja sebagai music director di Radio Prambors Jakarta. Tidak lama kemudian, “Stupido Ritmo” pun mulai mengudara dan masuk ke daftar tangga lagu musik indie “Prambors Nubuzz”. Lagu itu pun akhirnya mencapai puncaknya pada tanggal 8 Desember 2004 dan bertengger disana selama tiga minggu.

Dengan tambahan lagu “No-Dream Land”, Float memutuskan untuk memproduksi sendiri album perdananya dengan judul yang sama. Album itu hanya memuat tiga buah lagu, bersama dua lagu lainnya “Stupido Ritmo” dan “Pulang”.

Pada awal Januari 2005, album perdana Float “No-Dream Land” yang jumlahnya hanya 1000 keping mulai didistribusikan melalui distro-distro dan pesanan. Sebagian malah tetap mereka bagikan ke teman-teman, beberapa stasiun radio di kota-kota besar, stasiun TV swasta, dan “target market” lainnya.

All songs written by Hotma Roni Simamora.
Music producer: Windra Benyamin.
Recorded at Studio Gajah, Jakarta.
Recording & mix engineer: Windra Benyamin at Studio Gajah, Jakarta.
Mastering engineer: Jaya ROXX at Studio Gajah, Jakarta.

No-Dream Land

Running down the corridor in such fancy suit
To catch another 9 to 5
Hiding all your true desires and keep all of them mute
Seems the only way to survive
The never ending story of this no-dream land
Is on the morning headline all this time
Our hesitation is our every day’s game
Is this the land that God’s condemned?

Sippin’ up your lunch-break coffee by the windowpane
Too many plans left to update
You can’t wait to have the sun down again
To get the hell out of this cage
Hoping someone starts the revolution
Man, you know that we could be the ones
What the representatives said’s not about the constitution
They’re just protecting what they won

All this time we’re blind
All this time…

You could have been something greater with your balanced brain
The same old line from all your mates
You said, “Why should bother I’ve got ‘dollar’ to repel the pain?”
You spit it out as your defense
To be what we want is everyone’s dream
Man, you know with passion we might win
How many more lies that should blind our eyes?
We can do something to our life

All this time we’re blind

Hotma Roni Simamora: vocals, acoustic guitars.
Windra Benyamin: electric guitars, VST instruments, sound design.
Raymond Agus Saputra: bass.

Pulang

Dan lalu…
Rasa itu tak mungkin lagi kini
Tersimpan di hati
Bawa aku pulang, rindu!
Bersamamu!

Dan lalu…
Air mata tak mungkin lagi kini
Bicara tentang rasa
Bawa aku pulang, rindu!
Segera!

Jelajahi waktu
Ke tempat berteduh hati kala biru

Dan lalu…
Sekitarku tak mungkin lagi kini
Meringankan lara
Bawa aku pulang, rindu!
Segera!

Dan lalu…
O, langkahku tak lagi jauh kini
Memudar biruku
Jangan lagi pulang!
Jangan lagi datang!
Jangan lagi pulang, rindu!
Pergi jauh!

Dan lalu…

Hotma Roni Simamora: vocals, acoustic guitars.
Windra Benyamin: VST instruments.
Raymond Agus Saputra: bass.
Guest musician:
Leony Aurora: backing vocals.

Stupido Ritmo

You and I painting rainbows when no rain falls on our wall
Smelling raindrops on a hilltop as they fall
You and I laughing loudly with no reasons in our walk
Chasing sunsets, dancing minuet in the dark

Why don’t we just disappear
If that could keep us here?

You and I sharing snow fall and the beach sand in our thoughts
Writing love words with our whispers in our hearts
You and I stealing kisses from each other when we fight
Making wishes on the same star every night

Why don’t we just dream away
If that could make us stay?
Why can’t we just dream away?
We’re not real, anyway

ta ra ta ta ta ta ta ra ta ta
ra ta ta ra ta ta ta ra
Why don’t we just stay this high?
Pretend we’re all that fly
Why can’t we just stay this high?
We might rule our own sky

You and I singing solo our very own silly song
Playing lovers of all edens all life long

All life long

Hotma Roni Simamora: vocals, acoustic guitars.
Windra Benyamin: electric guitars, VST instruments, sound design.
Raymond Agus Saputra: bass, VST instruments.
.